OPINI

Dari Handari Permakultur: Upaya Memaknai Status Sebagai Khalifah FilI Ardh

Oleh: Rahmawati Azi (Korpres FORHATI Sultra dan Koord. Lajnah Wathonah JATMAN Sultra)


Belajar dari Handari Permakultur membuat saya semakin yakin bahwa krisis lingkungan yang kita hadapi hari ini bukan semata krisis alam, melainkan krisis kesadaran manusia. Kita hidup dalam logika antroposentrisme yang terlalu lama memandang manusia sebagai pusat alam semesta yang dominan dan bumi sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai ruang kehidupan yang harus dirawat. Padahal, tanah, air, dan benih adalah amanah, bukan sekadar sumber keuntungan.

Handari Permakultur mengajarkan saya satu pelajaran mendasar: alam tidak pernah bekerja secara instan. Ia tumbuh melalui kesabaran, keseimbangan, dan relasi yang saling menghidupi. Di sana, menjaga bumi bukanlah jargon, tetapi praktik nyata, mengembalikan apa yang kita ambil, memberi ruang bagi alam untuk memulihkan dirinya sendiri. Prinsip ini terasa sangat dekat dengan nilai tasawuf yang mengajarkan kerendahan hati dan pengendalian diri. Semakin manusia menundukkan egonya, semakin ia mampu hidup selaras dengan ciptaan Tuhan.

Refleksi ini membawa saya pada kesadaran tentang pentingnya ketahanan dan kemandirian pangan. Pangan bukan sekadar komoditas pasar, tetapi penopang utama kehidupan. Ketika pangan sepenuhnya dikendalikan oleh logika kapitalisme instan, yang menuntut hasil cepat, produksi masif, dan keuntungan besar, yang dikorbankan adalah kesuburan tanah, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan generasi mendatang. Handari Permakultur justru mengajarkan sebaliknya: menanam hari ini untuk kehidupan esok, bahkan untuk mereka yang tidak kita kenal.

Dalam sudut pandang tasawuf, sistem yang serakah lahir dari nafsu yang tidak terdidik. Ia ingin segera, tanpa sabar, tanpa cukup. Permakultur adalah latihan spiritual untuk melawan kecenderungan itu, sebuah mujahadah ekologis. Menanam, merawat, dan menunggu panen adalah proses pendewasaan batin. Di situlah manusia belajar cukup, belajar bersyukur, dan belajar bertanggung jawab.

Belum lama ini, menteri agama meluncurkan sebuah program kepedulian lingkungan yang beliau beri nama ekoteologi, sebuah ruang kesadaran tentang relasi manusia dan alam yang merupakan wujud penghayatan tentang relasi manusia dan Tuhan. Ekoteologi memperdalam refleksi ini. Alam adalah ayat-ayat Tuhan yang hidup. Merusaknya berarti mengabaikan tanda-tanda kehadiran-Nya. Sementara itu, ekofeminisme mengingatkan bahwa cara kita memperlakukan bumi sering kali sejalan dengan cara kita memperlakukan perempuan: sama-sama dirawat ketika dibutuhkan, tetapi diabaikan ketika dianggap tidak produktif. Logika dominasi ini harus dihentikan. Bumi, seperti perempuan, membutuhkan etika perawatan, bukan penguasaan.

Makna khalifah fil ardh menemukan relevansinya di sini. Khalifah bukanlah penguasa yang bebas mengeksploitasi, melainkan penjaga amanah. Dalam tasawuf, khalifah sejati adalah manusia yang mampu mengalahkan keserakahannya sendiri. Ia sadar bahwa dirinya hanya wakil, bukan pemilik. Menjadi khalifah berarti merawat kehidupan, bukan menghabiskannya.

Sebagai Koordinator Presidium Forhati Sulawesi Tenggara, refleksi ini menjadi dasar komitmen gerakan kami. Forhati berupaya hadir sebagai agen perubahan, menghubungkan kesadaran spiritual, pengetahuan ekologis, dan aksi nyata. Upaya mendorong praktik permakultur, memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan, serta menolak logika pembangunan yang instan dan destruktif adalah bagian dari upaya kami mengambil bagian meski sekecil biji zarrah dibanding kehancuran ekologis yang suda demikian masifnya. Setidaknya, dari ruang ruang kecil sekolah ekofeminis, kami berharap ini menjadi ruang diskursus yang melecutkan kesadaran bahwa kita semua wajib dan bertanggunjawab untuk membangun masa depan yang adil, berkelanjutan, dan beradab.

Pada suatu kesempatan, saat saya memberi sambutan dalam peringatan Milad Forhati, saya pernah mengatakan bahwa barangkali kerja-kerja kecil yang kami lakukan belum sebanding dengan kerusakan ekologis yang demikian masif. Bumi terluka terlalu dalam, sementara daya kami sangat terbatas. Namun saya percaya, nilai sebuah ikhtiar tidak selalu diukur dari besar-kecilnya hasil, melainkan dari ketulusan menjaga amanah. Saya mengibaratkan Forhati seperti burung kecil dalam kisah Nabi Ibrahim yang dengan paruhnya mengambil setetes air untuk memadamkan api yang menyala. Secara rasional, air itu nyaris tak berarti. Tetapi secara spiritual, ia adalah kesaksian iman. Seolah burung kecil itu berkata, “Ya Allah, saksikanlah bahwa aku telah berusaha mencegah kezaliman semampuku.” Di titik itulah kami berdiri hari ini. Merawat bumi, membangun kesadaran pangan, dan menolak logika perusakan mungkin tampak kecil, tetapi kami yakin: di hadapan Tuhan, ikhtiar yang jujur selalu memiliki makna. Dan menjadi khalifah di bumi, bagi kami, adalah tentang keberanian untuk tetap merawat, meski dengan paruh yang kecil, demi kehidupan yang lebih adil dan berkelanjutan.

Pada “Hari Sejuta Pohon” 10 Januari 2026, FORHATI Sultra, MD FORHATI Kendari, MD FORHATI Konsel dan MD FORHATI Buteng juga JATMAN Sultra, LESBUMI NU, MWCNU Ranomeeto serta KOHATI melakukan “Gerakan Sejuta Pohon” yang diawali dari Handari Permakultur sebagai simbol dari kesadaran ekologis kolektif. Kami sadar, jalan ini bukan jalan cepat yang juga tidak berefek besar, tetapi seperti benih yang ditanam dengan penuh kesadaran, ia akan tumbuh pada waktunya. Merawat bumi adalah bagian dari ibadah sosial kita.

Dan menjadi khalifah di bumi berarti berani memilih jalan perawatan, jalan yang sunyi, sabar, dan penuh tanggung jawab demi kehidupan yang lebih bermakna bagi generasi hari ini dan yang akan datang. Untuk pak Serkir dan bunda Asriati Amin, owner Handari Permakultur, jalan sunyi yang kalian tempuh menjadi dentuman keras yang menghentakkan jiwa-jiwa kami untuk serta di jalan perawatan ini, jalan sunyi yang penuh tanggungjawab pada alam dan masa depan bumi.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Close