Titik Balik Perginya “Haerul Saleh” Sosok Intelektual Muda Dari Kab. Kolaka Sultra
Oleh: Dr. Laxmi, S.Sos., M.A (Dosen Universitas Halu Oleo dan Pendamping Masyarakat Kolaka)

Adami lagi sumbangannya Aco tiba di rumah, dapatmi lagi bagiannya ibu-ibu, mama- mama dan orang-orang tua di Kolaka. Baik sekali itu Aco kasian, selalu ingat ini ibu-ibu di Kolaka, selalu tiba-tiba diantar bantuannya.” Itulah kalimat yang pernah diucapkan oleh perempuan tua berusia 60-an tahun kepada saya saat pulang kampung di Kolaka.
Dekat Dengan Semua Umur
Ingat Aco berarti ingat semua kebaikannya, sosok anak muda yang selalu dianggap ”anak baik” oleh para ibu-ibu di lorong kami tinggal.
Aco lebih akrab dipanggil oleh kalangan masyarakat di Kolaka ketimbang menyebut nama lengkapnya Haerul Saleh. Mungkin bagi ibu-ibu tua yang rutin menerima sumbangan dari Aco tidak pernah bertanya, sebenarnya Aco kerja apa? Karena pandangan mereka sosok Aco adalah anak kecil yang dulu sering bermain di sepanjang jalan Sam Ratulangi (Kampung Jawa), Andi Jemma, Usman Rencong dan sekitarnya. Memori ibu-ibu sangat mengenal Aco karena dibalik kebaikannya ada sosok orang tua yang akrab kami sebut Om Bakri Mendong.
Kebaikan yang diajarkan dalam keluarga besar Aco banyak mempengaruhi aktivitasnya sebagai panggilan ”anak baik”. Tidak mengherankan jika karier dan prestasinya setelah berkiprah di tingkat lokal Kolaka, Sulawesi Tenggara dan Nasional tidak pernah bergeser dengan sebutan ”anak baik”. Mengingat Aco, berarti mengingat jejak kebaikannya.
Masa Kecil yang Indah
Kami semua teman-teman Aco, ingat persis saat masa-masa kecil di Kolaka kami tinggal di pinggiran sungai (kami menyebutnya kali Latambaga). Disitulah kami sering memperbincangkan keadaan lingkungan kami sebagai anak kecil saat itu (usia SD). Kebiasaan kami seperti anak-anak kebanyakaan lainnya yang lahir di tahun 1977 hingga 1980 an memiliki kebiasaan duduk bersama disepanjang jalan Usman Rencong, Andi Jemma, Kampung Jawa, bermain gitar dan bermain di sekitar lapangan 19 November Kolaka.
Saat itu kami tidak pernah membayangkan bahkan berfikir jauh, bahwa di antara kami akan terdapat teman sepermainan yang akan menjadi sosok ”Pejabat Negara” impian kami lebih pada hal-hal yang ringan dan sederhana, sehingga tidak mengherankan kepolosan itu selalu hadir di antara kami anak-anak tempo doloe.
Setelah kami anak-anak seputaran Usman Rencong, Andi Jemma, Kampung Jawa dan sekitarnya menamatkan pendidikan Sekolah Dasar, pilihan studi ke Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menengah Atas membuat jarak dan waktu yang cukup lama tidak berjumpa, saat itu kami hanya memilih kesempatan bermain yang terbatas, seperti bermain Parlos, bermain Leba (bermain sembunyi-sembunyi) di antara pohon Pisang, pohon Settung dan pohon Bakka yang kala itu banyak tumbuh di lingkungan Kolaka III (Kelurahan Lamokato-saat ini) atau jika air di sungai belakang rumah lagi naik, kami beramai-ramai menuju sungai Latambaga berlompatan dari atas Pipa PDAM.
Keseharian anak-anak di lorong kami tidak lepas dari indahnya masa-masa kecil itu, dan Aco kadang-kadang bermain dalam arena itu sebagai sosok anak-anak seusia kami dan lainnya, hingga akhirnya diantara anak-anak lorong menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi ke Kendari, Ujung Pandang (Makassar), dan Perguruan Tinggi lainnya, semakin membuat jarak yang jauh d antara kami, karena saat itu Hand Phone sebagai alat komunikasi belum hadir sebagai komunikasi personal.
Pengetahuan saya tentang kawan-kawan sepermainan saat-saat masa kecil hanya terdengar ketika pulang saat hari raya lebaran, disitulah kawan kawan menceritakan kesuksesaan kawan masa kecil, hingga akhirnya saya menyadari bahwa ada juga anak di lorong kami yang telah jauh berkarir dan sukses berkiprah di Senayan.
Kawan Bermain Masa Kecil Itu Telah Pergi
Jumat 08 Mei 2026 waktu yang sulit terlupakan bagi masyarakat Kolaka, saat mendengar kabar Aco ”Haerul Saleh” telah pergi. Cukup mengejutkan bagi saya, karena berita itu cepat menyebar luas di platform Whattshap Group. WA saya ada 5 group yang mengabarkan berita yang sama, namun untuk memastikan informasi itu, kami bertanya ke group keluarga yang berada di Kolaka. Dari sinilah kami dapat kepastian bahwa sosok ”anak baik” itu telah pergi, dengan banyak prestasi yang telah tercatat dalam kiprahnya di tingkat Nasional – Indonesia. Ketika saya mencoba menelusuri kiprah dan karier strategis Haerul Saleh, dengan mudah saya menemukan titik balik itu.
Haerul Saleh, SH sebagai Anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan RI Periode 2022 – 2026.
Perjalanannya ke auditor negara sebagai satu titik balik yang mengubah arah kariernya dari politik legislatif ke pengawasan keuangan negara.
Titik Balik Akar Perjuangan dari Kolaka ke Senayan
Titik Balik 2022 selalu terekam dari jejak panjang Haerul Saleh di organisasi dan karier politik. Lahir di Kolaka, Sulawesi Tenggara 12 Agustus 1981, dengan memulai karier organisasi sejak muda sebagai Wakil Ketua KNPI Kolaka Tahun 2003, Ketua Umum DPD Pemuda Panca Marga 2012, hingga Dewan Penasehat KADIN Sultra 2008.
Titik Balik Dari DPR ke BPK, 19 April 2022
Sebelum 2022 Haerul Saleh politisi Partai Gerindra, duduk dua kali di Senayan sebagai Anggota DPR RI dari Dapil Sultra periode pertama 2014 – 2019, lalu kembali lewat mekanisme pergantian Antar Waktu pada 25 Agustus 2020 menggantikan Almarhum Bapak Imran.
Di Komisi XI DPR RI, Haerul Saleh membidangi keuangan, perbakan, dan perencanaan pembangunan nasional. Pengalaman ini sebagai bekal Haerul Saleh terpilih menjadi Anggota IV BPK RI pada 19 April 2022.
Haerul Saleh pernah mengatakan, bahwa ini “Titik Balik” dari pembuat kebijakan di Senayan menjadi pengawas pelaksanaan kebijakan di BPK. Transisi ini sebagai pergeseran dari politik anggaran ke politik akuntabilitas.
Titik Balik Mandat Baru Mengawal Sektor Vital Negara.
Latar belakang bidang Hukum dari Universitas Satria Tahun 2008 dan Pengalamannya di Komisi XI DPR menjadi alasan kuat Haerul Saleh dipercaya masuk BPK.
Haerul Saleh sebagai Anggota IV BPK memegang mandat strategis untuk audit pengelolaan keuangan negara di sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup rakyat.
Bidang pemeriksaaannya meliputi:
- Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Kementerian Pertanian.
- Kementerian PU, Kementerian Perumahan, Kementerian Energi dan SDA.
- Kementerian Kelautan, Perikanan, Kementerian Kehutanan, Badan Pangan Nasional.
Kiprah Haerul Saleh menempatkan dirinya sebagai ”Penjaga Uang Rakyat”. Haerul Saleh selalu menekankan bahwa audit BPK bukan untuk mencari kesalahan, tetapi memastikan uang negara sampai ke tujuan dan tidak bocor.
Akhir Pengabdian, 8 Mei 2026
Pengabdian Haerul Saleh di BPK terhenti pada hari Jumat, 8 Mei 2026. Wafat pada usia 44 tahun akibat insiden kebakaran di rumah pribadinya di Tanjung Barat, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Jenazah disemayamkan di Jakarta Selatan dan dimakamkan di tanah kelahirannya Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Refleksi Titik Balik
Perjalanan sosok Haerul Saleh menunjukkan bahwa pengawasan keuangan negara butuh sosok orang yang paham proses politik anggaran dari dalam. Haerul Saleh membawa pengalaman Senayan ke BPK untuk memperkuat akuntabilitas di sektor pangan, infrastruktur, dan SDA.
Tentunya bagi banyak kalangan di Sulawesi Tenggara dan Indonesia secara umum, Haerul Saleh seorang anak dari Kolaka adalah contoh putra daerah yang naik level dari organisasi kemahasiswaan dan KNPI hingga ke lembaga negara tertinggi. Titik baliknya dari legislator ke auditor menegaskan bahwa akuntabilitas uang negara adalah kelanjutan dari perjuangan politik untuk rakyat.
Selamat Jalan Intelektual Muda Kolaka, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Engkau telah berkiprah dalam Karier Intelektualmu, dan tercatat dalam Memory Kolektif bangsa Ini. Kami masih membutuhkan Intelektual muda dari Sultra sepertimu. Tenanglah dalam Keabadian Surga bersamamu.(laxmi)



