OPINI

Ramadhan, Ujian Batin dan Konsistensi Pembenahan Listrik di ULP Raha

Oleh: Husni (Jurnalis Siber dan Pemerhati Sosial)


Ramadhan adalah bulan yang identik dengan cahaya-cahaya ibadah, kebersamaan, dan ketenangan batin. Namun dalam beberapa waktu terakhir, sebagian masyarakat di wilayah layanan ULP Raha merasakan tantangan tersendiri berupa gangguan listrik yang terjadi pada momen-momen penting.

Gangguan yang muncul menjelang berbuka puasa atau saat persiapan sahur tentu bukan sekadar persoalan teknis biasa. Pada waktu-waktu tersebut, aktivitas rumah tangga, ibadah, dan usaha kecil berada pada titik yang cukup krusial. Ketika listrik terhenti, dampaknya terasa langsung: makanan belum selesai disiapkan, penerangan masjid terganggu, hingga pelaku usaha kecil harus menanggung risiko kerugian bahan dagangan.

Sebagai pelanggan dari Perusahaan Listrik Negara melalui ULP Raha, kami masyarakat memiliki harapan yang wajar terhadap layanan yang stabil dan terencana, terlebih di bulan dengan pola konsumsi listrik yang dapat diprediksi meningkat pada jam-jam tertentu. Dalam konteks pelayanan publik, stabilitas pasokan bukan sekadar aspek teknis, tetapi juga bagian dari kepercayaan yang dijaga bersama.

Perlu ditegaskan, gangguan listrik bisa terjadi karena berbagai faktor: pemeliharaan jaringan, gangguan cuaca, hingga beban puncak. Tidak setiap pemadaman dapat disimpulkan sebagai bentuk kelalaian. Namun ketika frekuensinya dirasakan cukup sering oleh warga, maka ruang evaluasi menjadi relevan untuk dibuka.

Yang sering kali menjadi sorotan bukan hanya padamnya listrik, melainkan minimnya informasi yang diterima pelanggan. Dalam era keterbukaan informasi, pemberitahuan yang cepat, jadwal pemeliharaan yang jelas, serta estimasi waktu pemulihan yang transparan akan sangat membantu meredam keresahan. Komunikasi yang baik adalah bagian tak terpisahkan dari kualitas pelayanan.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum peningkatan layanan, bukan sekadar rutinitas tahunan. Perencanaan teknis yang lebih adaptif terhadap lonjakan kebutuhan pada jam berbuka dan sahur adalah langkah preventif yang dapat dipertimbangkan. Dengan perencanaan matang, potensi gangguan di waktu-waktu sensitif dapat diminimalkan.

Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai vonis, melainkan sebagai dorongan konstruktif. Kritik yang disampaikan dalam koridor etika dan kepentingan publik sejatinya adalah bentuk partisipasi warga dalam mendorong perbaikan layanan.

Masyarakat tidak menuntut kesempurnaan, tetapi konsistensi pembenahan. Sebab dalam pelayanan dasar seperti listrik, yang dipertaruhkan bukan hanya aliran daya, melainkan juga rasa aman, kenyamanan beribadah, dan keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat kecil.

Harapannya, jajaran terkait di ULP Raha dapat menjadikan situasi ini sebagai bahan refleksi bersama, memperkuat sistem distribusi, serta meningkatkan pola komunikasi dengan pelanggan. Ketika evaluasi dilakukan secara terbuka dan berkelanjutan, kepercayaan publik akan tumbuh seiring dengan terangnya lampu-lampu di rumah warga.

Ramadhan adalah bulan cahaya. Semoga terang itu tidak hanya hadir dalam doa, tetapi juga dalam layanan yang semakin andal.

Muna, 22 Februari 2026

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Close