OPINI

Ketika Pertalite Menjadi Bagian dari Perjuangan Mencari Nafkah

Oleh: Husni – Jurnalis Siber dan Pemerhati Sosial


Pada titik tertentu, Pertalite tidak lagi sekadar bahan bakar. Ia telah menjadi bagian dari perjuangan mencari nafkah. Ketika akses terhadapnya menjadi sulit, yang ikut dipertaruhkan bukan hanya perjalanan sebuah kendaraan, tetapi juga waktu, pendapatan, dan ketahanan ekonomi keluarga.

Beberapa hari terakhir, pemandangan antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kabupaten Muna menjadi potret yang sulit diabaikan. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya barisan kendaraan yang menunggu giliran. Namun bagi tukang ojek, kurir, pedagang kecil, nelayan, petani, dan berbagai pekerja informal lainnya, antrean tersebut berarti berkurangnya waktu produktif yang semestinya digunakan untuk bekerja.

Sebagian besar dari mereka menggantungkan penghasilan pada aktivitas harian. Pendapatan diperoleh ketika kendaraan terus bergerak, bukan ketika mesin dimatikan dalam antrean. Karena itu, setiap waktu yang tersita untuk memperoleh BBM berpotensi mengurangi kesempatan mendapatkan penghasilan pada hari itu.

Di sisi lain, ketika Pertalite sulit diperoleh, sebagian masyarakat memilih membeli bensin eceran yang di beberapa tempat dijual dengan harga lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional kendaraan sehingga ruang keuntungan yang dimiliki para pekerja harian menjadi semakin sempit.

Bagi pekerja informal, bertambahnya biaya bahan bakar bukan sekadar meningkatnya pengeluaran. Dalam banyak kasus, kondisi itu dapat mengurangi uang yang semestinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti belanja dapur, biaya pendidikan anak, maupun keperluan lainnya.

Dalam situasi seperti ini, satu liter bensin tidak lagi hanya menjadi penggerak kendaraan, tetapi juga berkaitan erat dengan keberlangsungan penghasilan keluarga.

Di sinilah persoalan BBM tidak lagi semata dipandang sebagai isu energi. Dampaknya dapat merembet ke berbagai aspek kehidupan sosial dan ekonomi. Ketika mobilitas masyarakat terganggu, aktivitas ekonomi ikut melambat. Ketika kesempatan bekerja berkurang, pendapatan masyarakat yang bergantung pada penghasilan harian pun berpotensi ikut terdampak.

Yang paling menyentuh bukanlah panjangnya antrean, melainkan kesabaran orang-orang yang tetap bertahan di dalamnya. Mereka tidak sedang mengejar keuntungan besar. Mereka hanya ingin bekerja seperti biasa agar dapur tetap mengepul, anak tetap bersekolah, dan kehidupan keluarga dapat terus berjalan.

Karena itu, persoalan Pertalite tidak semestinya hanya diukur dari jumlah pasokan yang tersedia. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana dampaknya dirasakan oleh masyarakat yang setiap hari bergantung pada kendaraan untuk mencari nafkah.

Sejarah hampir tidak pernah mengabadikan angka-angka distribusi. Sejarah lebih sering mencatat bagaimana sebuah masyarakat bertahan di tengah kesulitan, dan bagaimana setiap persoalan publik diupayakan penyelesaiannya dengan mengutamakan kepentingan masyarakat.

Pada akhirnya, Pertalite telah menjadi bagian dari perjuangan mencari nafkah. Ketika bahan bakar menjadi salah satu syarat utama untuk bekerja, maka keterbatasan akses terhadapnya tidak lagi hanya menjadi persoalan pasokan, tetapi juga menyentuh aspek kesejahteraan masyarakat.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya perjalanan sebuah kendaraan, melainkan perjalanan hidup ribuan keluarga yang setiap hari menggantungkan harapan pada putaran roda dan setetes bahan bakar.

Muna, 6 Agustus 2026

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Close