SPIRITUAL

Ketaatan Sejati Itu Tidak Berisik

Oleh: Amir (Anggota Komunitas Ihsan Kendari)


Bismillah

Jika sebuah perumpamaan ia seperti air yang menemukan lautnya.
Begitu dilepas, ia tidak bertanya lagi ke mana,
karena ia tahu satu-satunya arah pulang adalah Dia.

Air tidak menuntut upah karena mengalir.
Ia tidak memilih jalan yang mudah.
Ada batu ia mengitari, ada jurang ia jatuh, ada panas ia menguap.
Tapi ia tetap air. Tugasnya hanya satu: kembali kepada sumbernya.

Begitu juga jiwa dalam penyerahan.
Ketika diserahkan, ia dituntun. Bukan dengan ceramah,
tapi dengan digerakkan. Seluruh raga jadi alat,
bukan untuk dipamerkan, tapi untuk dibersihkan.

Inilah bedanya bakti dengan transaksi.
Kalau karena nafsu, kita berhenti saat capek.
Kalau karena ingin pahala, kita berhenti saat tidak kelihatan hasilnya.
Kalau karena takut dosa, kita berhenti saat merasa aman.

Tapi kalau karena cinta dan karena sadar “aku milik-Nya”,
maka latihan (berserah) itu jadi napas.
Dilakukan bukan untuk dapat sesuatu,
tetapi karena memang itulah bentuk syukur yang paling jujur.

Tuhan tidak butuh tenaga kita.
Yang Dia lihat adalah: apakah kita mau “melepas kemudi”
dan membiarkan Dia yang mengemudikan bahtera ini (jiwa kita)?

Maka wajar ayat itu diturunkan.
Kita diciptakan bukan untuk sibuk mengumpulkan,
tapi untuk mengingat siapa Pemilik kita.
Mengabdi. Tunduk. Percaya.

Itulah ibadah yang sesungguhnya.
Bukan banyaknya gerakan, tapi dalamnya penyerahan.
Bukan kerasnya suara, tapi lembutnya kepasrahan.

Taat itu sederhana:
Lepaskan. Ikuti. Terima apa pun yang dititip dijiwa kita
Dan biarkan Tuhan yang menyempurnakan sisanya.

Ihklas karena diihklaskan

Sabar karena disabarkan

Pasrah karena dipasrahkan oleh-Nya

Allahu A’lam 🙏

Tinggalkan Balasan

Close