KOMUNITAS IHSAN

Tobat Itu “PULANG”

Oleh: Amir, Komunitas Ihsan Kendari


BISMILLAH, Waktu kecil kita diajari, tobat itu menyesali salah dan berjanji tidak mengulanginya lagi. Itu tidak salah, hanya belum lengkap. Ibarat baru mengenal huruf, belum merasakan isi ceritanya.

Dalam bahasa Arab, tobat artinya kembali. Kembali kepada sifat-sifat Tuhan yang sudah dititipkan di dalam diri kita, yaitu Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemaaf, Maha Sabar, dan Maha Memberi.

Perumpamaannya seperti cermin yang jernih. Pada asalnya ia memantulkan cahaya dengan sempurna. Lalu debu menempel sedikit demi sedikit, hingga ia menjadi kusam. Cerminnya tidak rusak, ia hanya tertutup debu.

Begitulah jiwa kita. Yang menutupinya adalah nafsu yang melampaui batas, seperti debu amarah, dendam, iri, khawatir, dan rasa ingin menang sendiri. Tobat itu bukan memecahkan cerminnya, tetapi membersihkan debunya, agar cahayanya kembali terpantul.

Lawannya adalah iblis, dari kata ablasa yang artinya menjauhkan. Menjauhkan dari sifat Tuhan. Dan yang menjauh itu sering kali adalah diri kita sendiri.

Ibarat anak yang meninggalkan rumah orang tuanya. Orang tuanya tetap membuka pintu, tetap menyiapkan makanan, tetap mencintainya. Si anaklah yang memilih pergi, lalu ia merasa kesepian dan marah. Ia menyangka dibuang, padahal ia sendiri yang menjauh.

Begitulah kita dengan Tuhan. Tuhan tidak pernah pergi. Bahkan dibalik jiwa kita, ada kekuasaan Tuhan yang sangat dekat, lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Dia yang menghidupkan, Dia yang menggerakkan, Dia yang membersihkan. Kita saja yang sering tidak menyadarinya, karena kita sibuk dengan rasa aku kita sendiri.

Ketika hati kita penuh marah, dendam, dan sulit memaafkan, hati terasa sempit dan panas. Itulah rasa jauh, rasa neraka yang sudah terasa dan kita bangun di dunia. Ketika kita mulai belajar memaafkan, sabar, dan memberi, hati terasa lapang. Itulah rasa dekat, rasa surga yang sudah kita bangun di dunia.

Maka tobat itu bukan sekadar menangis meraung-raung. Tangisan boleh keluar, tetapi bukan itu tujuannya. Tobat itu adalah kembali mewujudkan sifat Tuhan didalam diri.

Dalam latihan TAFAKKUR, tobat itu dilakukan dengan pasrah. Kita diam, kita menyerahkan diri, dan kita membiarkan kekuasaan Tuhan yang sangat dekat itu bekerja dari dalam, membersihkan jiwa kita tanpa kita paksa.

Ibarat sungai yang akhirnya kembali ke laut. Sepanjang jalan ia pernah kotor dan tersangkut lumpur, tetapi pada akhirnya ia kembali ke tempat asalnya yang luas dan tenang.

Begitulah jiwa kita. Ia berasal dari Tuhan, dan ia akan kembali kepada Tuhan. Dan orang yang sudah pulang itu akan menjadi lembut, sabar, dan mudah memaafkan. Sebab ia sudah merasakan sendiri, betapa dekat dan betapa luasnya pintu maaf Tuhan untuk dirinya.

Pulanglah, selagi pintu itu masih terbuka. Karena sesungguhnya Tuhan tidak pernah jauh. Kita lah yang selama ini menjauh dari-Nya.

#indahnyaBerserah

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Close